Tahun 90-an bisa dibilang periode paling
penting bagi industri teknologi. Karena beberapa penemuan teknologi yang
pada awalnya dianggap remeh sekarang justru menjadi sebuah kebutuhan.
Sebut saja produk Windows yang mampu membuat sebuah PC menjadi sangat user-friendly bagi manusia, atau World Wide Web (WWW) yang kini sudah berevolusi dan mengubah cara kita dalam mengakses sebuah internet.
Sebenarnya
ada beberapa alasan mengapa jajaran produk tersebut tidak mampu
bertahan lama. Misalnya beberapa produk yang dibuat akhirnya gagal
karena tidak sesuai dengan tren, sedangkan ada beberapa produk yang
tidak sesuai kebutuhan atau tidak memiliki minat pasar yang baik. Jadi,
ini dia 5 gadget periode 90-an yang tidak mampu bertahan lama hingga kini. Apa saja itu? Yuk, simak baik-baik ya.5 Teknologi Ini Gagal Tenar di Tahun 90-an
1. Apple “Newton”
Sebelum Apple merilis produk iPhone
dan iPad baru-baru ini, sebenarnya mereka telah lebih dulu membuat
sebuat perangkat informasi pribadi yang bisa digenggam, yaitu Apple Newton.
Produk tersebut pertama kali rilis dipasaran pada tahun 1993 dan
memiliki nama MessagePad. Sama seperti iPhone dan iPads, sistem operasi
yang disematkan pada MessagePad memiliki fitur standar seperti Kalender,
Kalkulator, Konverter mata uang, dan fitur andalan yakni aplikasi
Notepad yang bisa mengenali tulisan tangan.Di sinilah alasan mengapa Newton pada akhirnya gagal. Banyak sekali pengguna MessagePad yang merasa bahwa fitur andalan tersebut tidak bekerja dengan akurat, artinya produk ini masih belum siap untuk dipasarkan. Kemudian masalah ini dibesar-besarkan oleh beberapa kalangan yang menyebut produk yang pada waktu itu seharga 700 dolar Amerika tidak lebih baik dari menulis menggunakan kertas dan pulpen. Proyek Newton akhirnya diberhentikan pada tahun 1998 setelah kembalinya Steve Jobs sebagai CEO.
2. Sony Minidisc
Pada tahun 1992, setelah era kaset Tape mulai jadul Sony membuat produk inovasi yang menjadi taruhan besar di masa depan nanti. Setelah kemudian kaset CD mulai jadi mainstream, Sony justru membuat inovasi produk kaset CD baru yang berukuran lebih kecil dari sebelumnya. Produk yang diberi nama Minidisc ini dipasarkan bagi konsumen yang suka mendengarkan musik kapan pun dan di mana pun.Sayangnya, dibandingkan dengan produk sejenis Sony yakni Walkman yang lebih memiliki harga terjangkau, justru Minidisc ini dibanderol dengan harga $550 atau sekitar Rp. 7 jutaan dan produk tambahan yang bisa digunakan untuk merekam audio sebesar $200 atau sekitar Rp. 3 jutaan. Dengan harga yang begitu tinggi dan benefit tidak seberapa wajar jika produk tersebut tak laris dipasaran.
Walaupun tidak seperti Newton yang seumur jagung, Minidisc masih mampu bertahan selama 20 tahun lebih sebelum akhirnya dihentikan pada tahun 2013. Namun, seperti yang diungkapkan oleh Sony sendiri, jika produk Minidisc mereka sama sekali tidak pernah menjadi “Next Big Thing” seperti yang mereka harapkan.
3. Virtuality
Inovasi
teknologi yang baru-baru ini kembali populer pada kenyataannya adalah
sebuah kegagalan yang pernah muncul pada tahun 90-an. Namanya adalah Virtuality, salah satu inovasi yang memanfaatkan VR sebagai game masa depan.Perusahaan yang menciptakan produk ini mulai meluncurkan versi game VR pertama kali tahun 1991 lengkap dengan berbagai fitur dan kelengkapannya. Sayangnya teknologi Virtuality tidak sesuai dengan pengembangan perangkat lunaknya yang baik.
Game Virtuality ini jika ingin memainkannya harus rela membayar selama beberapa menit saat bermain, mirip seperti rental PS atau game zone pada umumnya. Selain itu, masih banyak kekurangan dari sisi game ini sendiri, grafiknya yang goyah dan karakter animasi yang ala kadarnya. Kemudian masalah resolusi dan layarnya yang belum baik membuat pemain yang memainkan Virtuality merasakan pusing dan mual.
Berbagai masalah dan kelemahan yang muncul tidak mampu diperbaiki oleh produk ini. Kemudian, pada pertengahan tahun 90-an, pengembang mulai tidak meneruskan proyek ini lagi dan menjual beberapa unit mereka. Pada akirnya teknologi VR game tidak pernah muncul lagi selama hampir 2 dekade hingga kembali populer saat ini.
4. Video CD
DVD
merupakan teknologi yang pertama kalinya digunakan untuk menjejalkan
film pada sebuah kepingan kaset, teknologi ini diberi nama LaserDisc.
Produk tersebut memiliki ukuran yang lebih besar dari kaset CD pada
umumnya. Kemudian beberapa produsen eletronik besar seperti Sony dan Philips mulai membahas bersama-sama pada tahun 1993 untuk menciptakan produk inovasi sejenis yang lebih baru, yaitu CD Video.Meskipun berhasil namun ternyata hasilnya sangat tidak baik. Kurangnya ruang penyimpanan berarti file video yang bisa direkam di dalamnya harus menggunakan kualitas yang rendah, sehingga resolusi video yang bisa ditawarkan produk ini tidak lebih baik dari kaset VHS. Jadi kenyataannya, film panjang harus dibagi menjadi beberapa kepingan. Kemudian muncul lagi teknologi VCR yang diharapkan bisa memperbaiki masalah-masalah tersebut namun ternyata tidak jauh menjadi lebih baik.
Kemudian Video CD tidak lagi digunakan untuk merekam video. Pada periode saat ini justru teknologi DVD sudah dikembangkan lebih baik dan memiliki kapasitas penyimpanan yang jauh lebih besar. Selain itu kualitas gambar yang bisa dihasilkan DVD jauh lebih baik dan menjadikan produk ini satu-satunya teknologi video berbasis CD yang masih layak hingga saat ini.
5. WebTV
Konsep
di balik WebTV pada waktu itu yakni kita bisa menonton televisi
menggunakan perangkat yang terhubung ke internet. Namun sebenarnya untuk
bisa melakukannya dibutuhkan beberapa peralatan yang sangat mahal.WebTV diluncurkan pertama kali pada tahun 1996, dan mendapatkan popularitas secara instan melalui promosi iklan yang ditayangkan. Teknologi yang merupakan gabungan dari kemampuan internet melalui televisi ini disebut sebagai sebuah awal dari perkembangan internet yang berikutnya. Pada waktu itu sebuah internet dan web tidak hanya terbatas pada perangkat PC. Dan terbukti Microsoft mampu meraup hampir setengah miliaran dolar dari produk ini pada tahun 1997.
Tapi kemudian produk WebTV tidak bertahan lama. Akibat teknologi Web yang mengalami perkembangan dan lonjakan pertumbuhan yang pesat, dan diikuti dengan teknologi baru seperti streaming audio atau video, dan metode perancangan web yang baru. Pada akhirnya membuat WebTV tidak lagi dibutuhkan dan pada awal tahun 2000 membuat Microsoft secaras resmi menghentikan layanan ini karena jumlah pelanggannya yang terus-menerus menyusut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar